Aerin adalah seorang perempuan yang gemar melukis dan sedikit tertutup. Wajahnya natural dan pipinya merah merona. Aerin lebih senang berada didalam rumah dibanding ia beraktivitas diluar rumah.
Pagi itu Aerin duduk dikursi dengan menggenggam beberapa kuas yang sudah siap ia goreskan dikanvas putihnya yang masih kosong sambil mengingat beberapa hal yang terjadi pada dirinya.
"Aerin, kau sudah mulai menggambar?" Terdengar suara pria dari belakang Aerin yang sudah tak asing lagi didengar Aerin. Suara yang tiba-tiba saja menyejukan suasana hati Aerin dan suara yang ia nanti-nanti untuk ia dengar lagi.
"Hah? Belum, aku belum terpikir untuk menggambar apa" jawab Aerin yang tersontak kaget karena kedatangan Hansel, pria sebaya yang selalu menginspirasi dirinya dalam melukis. Pria bertubuh tinggi yang memiliki senyum manis serta lesung pipi dipipi kanannya.
Hari ini Hansel menggunakan kaos hitam berlapis jaket baseballnya karena Jakarta terguyur hujan pagi ini dan membuat udara di kota Jakarta dingin dan lembab.
"Kalau begitu aku yang akan menggambar untuk mu" jawab Hansel dengan senyuman manis yang membuat lesung pipinya terlihat jelas.
Aerin tak berhenti memandangi pria disebelahnya itu. Matanya begitu indah sampai-sampai aerin tak dapat mengalihkan pandangannya dari pria tersebut. Rambutnya yang berwarna ke cokelat-cokelatan rapih di tatanya dengan sedikit baluran gel.
"Sampai kapan kau akan memandangiku?" Tanya Hansel sambil tertawa membuat Aerin terbuyar dari lamunannya.
"Tidak, aku tidak memandangi mu. Untuk apa aku memandangi mu?" Aerin mengelak dan mengalihkan pandangannya dari Hansel.
"Kebohongan yang aneh" kata Hansel
"Apa aku terlihat seperti pembohong?" Gumam Aerin namun suaranya tersebut dapat terdengar dengan jelas di telinga Hansel.
"Eum, memang kau pembohong. Matamu itu menjelaskan semua kebohonganmu padaku" jawab Hansel sambil terkekeh.
Tiba tiba suara ponsel Hansel menghentikan pembicaraan mereka. Hansel mengangkat panggilan tersebut dengan muka datar.
"Ya, halo?"
Aerin hanya terdiam melihat Hansel. Aerin sudah mengetahui siapa yang menelfon pria itu. Gadis yang menjadi masa lalu Hansel itu selalu mengganggu kehidupannya hingga sekarang. Gadis itu selalu berharap dapat kembali menjadi bagian dari hidup hansel.
"Sudah ya, kututup telfonnya" Hansel mematikan panggilan dari gadis itu.
"Pasti gadis itu selalu mengganggu mu ya?" tanya aerin kepada hansel dengan senyum tipis.
"Tidak, hanya kadang-kadang saja dia menelfon dan minta bertemu tapi aku memang tak berniat untuk menemui nya entah kenapa" jawab Hansel dengan wajah datar. Ia tak tahu mengapa ia menjelaskan ini kepada Aerin. Hanya saja ia merasa perlu menjelaskannya.
"Oh begitu" Aerin kehilangan senyum nya dan hanya menunduk kebawah sambil melihat jari-jari tangannya.
"Aerin" panggil pria tersebut tiba-tiba sambil memutar wajah nya ke hadapan Aerin. Aerin pun mengangkat wajahnya sambil tak menunjukan ekspresi apa-apa.
Hansel menatap mata Aerin dalam-dalam. Mata indahnya berbinar dibawah cahaya lampu. Pandangan Hansel begitu serius. Wajah indahnya menatap wajah Aerin yang mungil. Aerin terlihat membeku saat Hansel menatapnya.
Pria itu mulai mendekatkan bangkunya ke depan Aerin. Harum tubuhnya pun dapat tercium dengan jelas. Degup jantung Aerin mulai tak beraturan. Ia merasa badannya tiba tiba panas dan wajahnya memerah.
"Aku menyukaimu, Aerin." Hansel tersenyum tulus dan menatap gadis yang berada tepat didepan nya itu.
Muka aerin memanas. Ia sangat terkejut dan degupan jantungnya semakin kencang. Ia khawatir saking kencangnya degupan jantung itu , Hansel akan mendengarnya. Ia hanya dapat memandang pria yang di sukainya sejak ia mulai melukis saat itu. 'Aduh muka ku pasti sudah semerah buah tomat sekarang' gerutu Aerin dalam hati.
"Kenapa tidak menjawab? Apa kau marah soal mantan ku itu?" Tanya Hansel sambil menatap Aerin.
"Tidak."
Aerin mengumpulkan semua keberaniannya dan menatap mata Hansel dengan sungguh -sungguh.
"Aku juga menyukaimu." tiba-tiba kalimat itu keluar dengan sendirinya dari mulut Aerin.
Hansel tersenyum. Senyuman itu. Senyuman yang tak pernah bosan di pandang Aerin walau 1000 tahun lamanya. Senyuman yang selalu menggantung indah di wajahnya.
Hansel semakin mendekat ke Aerin. Hansel kembali menatap gadis itu dalam-dalam dengan kedua bola matanya yang bulat dan indah. Dan di bawanya lah gadis itu ke dalam pelukannya. Hangat yang terasa dari pelukan itu pun dapat dirasa oleh keduanya. Jantung mereka yang berdegup kencang dapat menyapu dingin nya udara dihari itu. Mereka tersenyum bahagia karena hari itu keduanya merasa nyaman dan menemukan sepasang bagian dari hidupnya.
Aerin ingin meloncat rasanya. Jantung nya ini sudah tak dapat ia kendalikan. Hansel semakin mempererat pelukannya.
"Kau cemburu kan tadi?" bisik Hansel.
"Tidakk." Aerin mengelak lagi.
"Pembohong." Ucap Hansel sambil tersenyum bahagia. Kebohongan Aerin membuat Hansel tertawa karena kebohongan itu tidak dapat di tutupi dengan matanya yang memberikan tatapan cemburu pada Hansel.
Hari itu Aerin merasa tak dapat melepaskan pelukannya, Hansel adalah segalanya bagi dirinya. Aerin merasa tak dapat hidup tanpanya. Sosok pria yang selalu memenuhi pikirannya yang kini telah berada di pelukannya.
"KRINGGGGGGGGGGGGGGGGG"
Bunyi ponsel yang membuyarkan lamunan Aerin. Ternyata alarm ponsel Aerin berbunyi menandakan hari telah pagi. "Huft, lagi lagi aku tidak tidur dan malah melamun" gumam Aerin sambil menatap ponselnya.
Didepan Aerin didapatinya kanvas yang sudah ia lukis semalaman. "Ternyata semalam aku melukis gambar ini sambil melamun" kata Aerin sambil memandangi lukisan didepannya yang bergambarkan sosok pria yang sudah tidak asing lagi dipandang. Pria yang semalaman ia lamunkan. "Hansel" Aerin menyebutnya sambil menitihkan air mata. Aerin tak dapat menahan nya lagi. Air matanya menjalar di pipi nya. Hatinya sakit dan rapuh.
Hansel sudah tak ada lagi disini. Tidak ada lagi kehangatan yang di rasakan di hati Aerin seperti hari itu. Tidak terlihat lagi senyuman indah yang selalu membuat jantung Aerin berdegup kencang layaknya hari itu. Hansel telah pergi meninggalkan dunia selamanya. Namun, akan selalu ada tempat di hati Aerin untuk Hansel.
Aerin akan tetap melanjutkan hidupnya dan Aerin akan terus melukis meski Hansel tak ada lagi di dunia ini. Karena pada mula nya Hansel lah alasan Aerin mulai melukis. "Aku sangat merindukannya melebihi siapapun." Ucap Aerin sambil menangis dan memeluk kanvas bergambarkan sosok yang sangat ia cintai.